Dimensi etika dan spiritual dalam petuah Sunan Kalijaga: “anglaras ilining banyu, angeli nanging ora keli”
Diantara beragam istilah linguistik keseharian yang dikonsumsi masyarakat jawa terangkai kalimat “anglaras ilining banyu, angeli nanging ora keli” petuah Sunan Kalijaga. Makna “anglaras ilining banyu” disesuaikan dengan istilah “aliran air” harus selalu diikat dengan ingatan pada kesucian ajaran Nabi dan nilai tauhid. Jadi “anglaras ilining banyu” bukan sekadar strategi sosial, tetapi laku spiritual, yakni: mengelola ego, menekan keangkuhan, dan menerima ketentuan Allah dengan sikap lapang.
Sikap selaras dengan aliran juga mengajarkan tawakal dan sabar: ketika situasi tidak sesuai keinginan, manusia tidak gegabah melawan, tetapi mencari celah kebaikan di dalamnya sambil tetap berusaha. Dengan demikian, apabila hal ini diimplementasikan secara utuh oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari maka manusia memiliki kontrol diri yang sangat baik agar tidak terjebak dalam aliran pergaulan yang seringkali membuat lupa pada prinsip hidup dan jati diri. Inilah yang kemudian secara holistik mengandung filosofi “angeli nanging ora keli”. Dengan harapan yang sangat besar, sebagai manusia dapat peka terhadap kondisi zaman, adat, budaya, dan lingkungan sosialnya, lalu menyesuaikan cara berinteraksi dan berperilaku agar tetap “membaur” dengan masyarakat. Ini melahirkan sifat toleran, komunikatif, dan mudah diterima, bukan eksklusif dan menyendiri. Dengan begitu, istilah ini menggabungkan kecerdasan sosial, keluwesan budaya, dan kedalaman spiritual dalam satu prinsip hidup. Pada akhirnya, sebagai manusia dapat dengan merdeka merealisasikan potensi dalam dirinya, tanpa kehilangan arah dan prinsip hidup.
Wallahu ‘alam …