Nilai-nilai ketauhidan dalam lagu “Kidung Kapitayan Jawi”
Lagu “Kidung Kapitayan Jawi” memuat nilai-nilai ketauhidan terutama dalam cara memandang Tuhan sebagai Sang Hyang Taya/Sang Hyang Tunggal. Makna mendalam mengenai eksistensi Tuhan yang Maha Gaib namun Maha Hadir. Kehadirannya dapat dirasakan menembus dan meliputi seluruh jagat raya. Ungkapan-ungkapan spiritualnya mengajak manusia kembali menyadari sumber segala keberadaan dan berserah diri pada Yang Esa dengan penuh rendah hati. Pada konteks ini manusia tidak diartikan sebagai insan yang tindakannya selalu diawasi, sehingga kehilangan kebebasan, namun nilai eksistensi keesaanNya mengarah kepada kontrol diri agar selalu ingat pada nilai-nilai kebaikan hidup yang bermuara pada ketenangan hati karena dalam hidupnya selalu berbuat kebaikan.
Lagu ini memberikan banyak sudut pandang dalam memaknai Tuhan sebagai Dzat yang Maha Esa,
Istilah Jawa seperti Sang Hyang Taya atau tata bahasa ketuhanan di dalam kidung menggambarkan Tuhan sebagai Dzat yang tidak terindra namun menjadi asal-usul segala yang ada, sejalan dengan konsep tauhid rububiyyah (mengakui Allah SWT sebagai Pencipta dan Penguasa).
Liriknya banyak bernuansa eling lan waspada, merefleksikan diri agar mengingat asal-usul diri, kefanaan hidup, dan keterbatasan manusia di hadapan Yang Mahasuci. Ini beririsan dengan tauhid yang menempatkan manusia sebagai hamba yang tunduk, bukan penguasa mutlak.
Penekanan bahwa hanya kepada-Nya manusia bergantung dan kembali menunjukkan arah tauhid agar manusia tidak menyekutukan-Nya dengan kekuatan lain, meskipun diekspresikan dalam bahasa dan simbol Jawa. Sikap pasrah, andhap asor (rendah hati), dan menjauhkan diri dari kesombongan diulang sebagai laku batin, selaras dengan ajaran tauhid untuk tidak “mempersekutukan” diri dan ego dengan kedudukan Tuhan.
Secara bahasa dan kosmologi, kidung ini menggunakan istilah kapitayan dan konsep ketuhanan Nusantara yang bersifat filosofis dan simbolik, sehingga perlu dibaca dengan kacamata tanzih (mensucikan Allah SWT dari segala penyerupaan) agar tidak jatuh pada penafsiran yang menyerupakan Tuhan dengan alam.
Dalam konteks pendidikan Islam, nilai tauhid yang bisa diambil antara lain: mengakui keesaan Tuhan, menyadari kefanaan manusia, menjauhkan diri dari syirik, dan mengarahkan laku hidup hanya untuk mendekat kepada Allah SWT; sementara istilah-istilah budaya yang berpotensi rancu perlu dijelaskan atau disaring agar tetap selaras dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah.
Wallahu ‘alam…

