Minggu, 18 Januari 2026

 Nilai-nilai ketauhidan dalam lagu “Kidung Kapitayan Jawi”


Lagu “Kidung Kapitayan Jawi” memuat nilai-nilai ketauhidan terutama dalam cara memandang Tuhan sebagai Sang Hyang Taya/Sang Hyang Tunggal. Makna mendalam mengenai eksistensi Tuhan yang Maha Gaib namun Maha Hadir. Kehadirannya dapat dirasakan menembus dan meliputi seluruh jagat raya. Ungkapan-ungkapan spiritualnya mengajak manusia kembali menyadari sumber segala keberadaan dan berserah diri pada Yang Esa dengan penuh rendah hati. Pada konteks ini manusia tidak diartikan sebagai insan yang tindakannya selalu diawasi, sehingga kehilangan kebebasan, namun nilai eksistensi keesaanNya mengarah kepada kontrol diri agar selalu ingat pada nilai-nilai kebaikan hidup yang bermuara pada ketenangan hati karena dalam hidupnya selalu berbuat kebaikan. 

Lagu ini memberikan banyak sudut pandang dalam memaknai Tuhan sebagai Dzat yang Maha Esa, 

  • Istilah Jawa seperti Sang Hyang Taya atau tata bahasa ketuhanan di dalam kidung menggambarkan Tuhan sebagai Dzat yang tidak terindra namun menjadi asal-usul segala yang ada, sejalan dengan konsep tauhid rububiyyah (mengakui Allah SWT sebagai Pencipta dan Penguasa).

Liriknya banyak bernuansa eling lan waspada, merefleksikan diri agar mengingat asal-usul diri, kefanaan hidup, dan keterbatasan manusia di hadapan Yang Mahasuci. Ini beririsan dengan tauhid yang menempatkan manusia sebagai hamba  yang tunduk, bukan penguasa mutlak.

  • Penekanan bahwa hanya kepada-Nya manusia bergantung dan kembali menunjukkan arah tauhid agar manusia tidak menyekutukan-Nya dengan kekuatan lain, meskipun diekspresikan dalam bahasa dan simbol Jawa. Sikap pasrah, andhap asor (rendah hati), dan menjauhkan diri dari kesombongan diulang sebagai laku batin, selaras dengan ajaran tauhid untuk tidak “mempersekutukan” diri dan ego dengan kedudukan Tuhan.

  • Secara bahasa dan kosmologi, kidung ini menggunakan istilah kapitayan dan konsep ketuhanan Nusantara yang bersifat filosofis dan simbolik, sehingga perlu dibaca dengan kacamata tanzih (mensucikan Allah SWT dari segala penyerupaan) agar tidak jatuh pada penafsiran yang menyerupakan Tuhan dengan alam.

  • Dalam konteks pendidikan Islam, nilai tauhid yang bisa diambil antara lain: mengakui keesaan Tuhan, menyadari kefanaan manusia, menjauhkan diri dari syirik, dan mengarahkan laku hidup hanya untuk mendekat kepada Allah SWT; sementara istilah-istilah budaya yang berpotensi rancu perlu dijelaskan atau disaring agar tetap selaras dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah.


Wallahu ‘alam…



Selasa, 16 Desember 2025

 

Dimensi etika dan spiritual dalam petuah Sunan Kalijaga: “anglaras ilining banyu, angeli nanging ora keli”

Diantara beragam  istilah linguistik keseharian yang dikonsumsi masyarakat jawa terangkai kalimat “anglaras ilining banyu, angeli nanging ora keli”  petuah Sunan Kalijaga.  Makna “anglaras ilining banyu” disesuaikan dengan istilah  “aliran air” harus selalu diikat dengan ingatan pada kesucian ajaran Nabi dan nilai tauhid. Jadi “anglaras ilining banyu” bukan sekadar strategi sosial, tetapi laku spiritual, yakni: mengelola ego, menekan keangkuhan, dan menerima ketentuan Allah dengan sikap lapang.​

Sikap selaras dengan aliran juga mengajarkan tawakal dan sabar: ketika situasi tidak sesuai keinginan, manusia tidak gegabah melawan, tetapi mencari celah kebaikan di dalamnya sambil tetap berusaha. Dengan demikian, apabila hal ini diimplementasikan secara utuh oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari maka manusia memiliki kontrol diri yang sangat baik agar tidak terjebak dalam aliran pergaulan yang seringkali membuat lupa pada prinsip hidup dan jati diri. Inilah yang kemudian secara holistik mengandung filosofi “angeli nanging ora keli”. Dengan harapan yang sangat besar, sebagai manusia dapat peka terhadap kondisi zaman, adat, budaya, dan lingkungan sosialnya, lalu menyesuaikan cara berinteraksi dan berperilaku agar tetap “membaur” dengan masyarakat. Ini melahirkan sifat toleran, komunikatif, dan mudah diterima, bukan eksklusif dan menyendiri. Dengan begitu, istilah ini menggabungkan kecerdasan sosial, keluwesan budaya, dan kedalaman spiritual dalam satu prinsip hidup. Pada akhirnya, sebagai manusia dapat dengan merdeka merealisasikan potensi dalam dirinya, tanpa kehilangan arah dan prinsip hidup.

Wallahu ‘alam …


Rabu, 03 Oktober 2018

IKASUKA Mengajak Generasi Muda untuk Ikut Andil Merawat Indonesia


Kamis (27/09), Masih dalam rangkaian Mensyukuri Kelahiran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ke-67, Ikatan Alumni UIN Sunan Kalijaga (IKASUKA) adakan Kuliah Umum dengan tema, "Mencegah Pengaruh Ideologi Ekstrimisme di Kalangan Anak Muda Indonesia". Hadir sebagai narasumber adalah Brigjen Pol. Drs. Edi Setio Budi Santoso (Dirbintibmas Korbinmas Baharkam Polri) dan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Drs. K. Yudian Wahyudi, Ph.D., bertempat di Gedung Prof. R. Soenardjo.
Dr. Abdur Rozaki, M.Si, Sekretaris Jenderal IKASUKA dalam sambutanya menjelaskan, Tema ini diusung berdasarkan beberapa fenomena yang cukup memprihatinkan akhir-akhir ini, khususnya adalah wilayah gerakan ekstrim-radikal yang ditunjukkan oleh beberapa kelompok yang menghendaki perubahan konstitusi negara dan beberapa paham ekstrem lainnya yang meliputi wilayah gerakan pemikiran.
"Acara ini merupakan gebrakan perdana dari agenda tahunan Ikatan Alumni UIN Sunan Kalijaga (Ikasuka) yangdiharapkan mampu membentengi anak muda dalam menjaga dan membela negara. Di sisi lain adalah ini merupakan upaya Perguruan Tinggi Islam Negeri dalam mengusung Islam Indonesia sebagai kiblat dunia Muslim lainnya melalui moderasi Islam," tutur Abdur Rozaki.
Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi,M.A, Ph.D, menyampaikan bahwa gerakan ekstrim-radikal seperti halnya penyakit yang jika didiamkan atau tidak dilanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengkudeta NKRI itu sendiri dalam level konstitusionalnya. Setidaknya pemerintah harus berani mengatakan bahwa Indonesia (Pancasila) adalah negara hukum religius dan sekularitas baik sumber dan tujuannya. Dikatakan Pancasila adalah religius karena muatannya bersifat Illahi dan wadh'i (kekinian). Artinya Pancasila adalah hasil keputusan bersama (ijma/konsensus) dari hukum Tuhan yang kemudian diijtihadkan dengan pemahaman atau konsep baru yang lebih maslahat (sekularitas) dan mengoptimalisasi nilai-nilai lokal.
Sementara menurut, Brigjen Edi, bahwa paham ekstrimisme banyak menyerang kalangan muda dari berbagai sisi, baik pola pikir, radikal teroris, radikalisasi agama, dan paling masif adalah melalui media. Ekstrimisme dalam pandangannya adalah paham sekaligus tindakan di luar batas nalar dan kesepakatan moral maslahat. Kaum muda yang tidak sedikit diserang adalah mereka yang memiliki kecenderungan merasa terkucilkan oleh negara dan mudah terdoktrinasi oleh isu global. (Doni-Humas)
SUMBER:http://uin-suka.ac.id/id/berita/detail/257/blog-post.html

Kamis, 05 November 2015

JUST FOR FUN

LIRIK LAGU KUN ANTA.....

لأجاريهم، قلدت ظاهر ما فيهم
فبدوتُ شخصاً آخر، كي أتفاخر

و ظننتُ أنا، أنّي بذلك حُزْت غنى
فوجدتُ أنّي خاسر، فتلك مظاهر

لا لا
لا نحتاج المال
كي نزداد جمالا
جوهرنا هنا
في القلب تلالا

لا لا
نرضي الناس بما لا
نرضاه لنا حالا
ذاك جمالنا
يسمو يتعالى

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...

كن أنت تزدد جمالاً

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...

كن أنت تزدد جمالاً
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...


لا لا لا لا لا لا لا لا
أتقبّلهم، الناس لست أقلّدهم
إلا بما يرضيني، كي أرضيني


سأكون أنا، مثلي تماما هذا أنا
فقناعتي تكفيني، ذاك يقيني

لا لا
لا نحتاج المال
كي نزداد جمالا
جوهرنا هنا
في القلب تلالا

لا لا
نرضي الناس بما لا
نرضاه لنا حالا،
ذاك جمالنا
يسمو يتعالى

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...

كن أنت تزدد جمالاً

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...

سأكون أنا، من أرضى أنا، لن أسعى لا لرضاهم
وأكون أنا، ما أهوى أنا، مالي وما لرضاهم

سأكون أنا، من أرضى أنا، لن أسعى لا لرضاهم
وأكون أنا، ما أهوى أنا، لن أرضى أنا برضاهم

لا لا
لا نحتاج المال
كي نزداد جمالا
جوهرنا هنا
في القلب تلالا

لا لا
نرضي الناس بما لا
نرضاه لنا حالا
ذاك جمالنا
يسمو يتعالى

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...

كن أنت تزدد جمالاً

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...

كن أنت تزدد جمالاً





Ketika bersama mereka
Aku meniru rupa dan apa yang dizahirkan mereka
Jadi aku menjadi seorang yang berbeza
Hanya untuk berbangga

Dan aku sangka jika aku lakukan seperti itu

Aku akan dapat kelebihan
Tetapi apa yang aku perolehi hanyalah kerugian
Kerana ia adalah luaran semata-mata

Tidak... tidak...

Kita tidak memerlukan harta untuk menambahkan kecantikan
Kecantikan dalaman (jauhari) ada di sini di dalam hati ia bersinar 

Tidak... tidak...
Kita tidak perlu memandang pandangan orang lain untuk apa yang kita tidak ada
Itulah kecantikan kita semakin bertambah hingga ke atas 

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...


Jadilah dirimu sendiri pasti akan bertambah kecantikan yang sedia ada 

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...


Jadilah dirimu sendiri pasti akan bertambah kecantikan yang sedia ada

Sungguhpun aku menerima mereka tetapi tidak pula aku meniru perwatakan mereka Melainkan apa yang aku terima itu aku redha
Aku ingin menjadi diriku sendiri seperti diriku sendiri
Inilah aku
Kepuasanku mencukupi untuk diriku
Inilah keyakinanku

Tidak... tidak...
Kita tidak memerlukan harta untuk menambahkan kecantikan
Kecantikan dalaman (jauhari) ada di sini di dalam hati ia bersinar 

Tidak... tidak...
Kita tidak perlu memandang pandangan orang lain untuk apa yang kita tidak ada
Itulah kecantikan kita semakin bertambah hingga ke atas 

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...


Jadilah dirimu sendiri pasti akan bertambah kecantikan yang sedia ada 

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...


Aku akan mengikut kemampuan diriku 
Aku tidak perlukan orang lain menerimaku
Aku akan jadi apa yang aku cintai
Kenapa aku perlu peduli tentang penerimaan mereka terhadapku?

Aku akan mengikut kemampuan diriku 

Aku tidak perlukan orang lain menerimaku
Aku akan jadi apa yang aku cintai
Kenapa aku perlu peduli tentang penerimaan mereka terhadapku?

Tidak... tidak...
Kita tidak memerlukan harta untuk menambahkan kecantikan
Kecantikan dalaman (jauhari) ada di sini di dalam hati ia bersinar 

Tidak... tidak...
Kita tidak perlu memandang pandangan orang lain untuk apa yang kita tidak ada
Itulah kecantikan kita semakin bertambah hingga ke atas 

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh... 


Jadilah dirimu sendiri pasti akan bertambah kecantikan yang sedia ada

Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh...
Oh wo oh... Oh wo oooh... 


Jadilah dirimu sendiri pasti akan bertambah kecantikan yang sedia ada


Kamis, 01 Oktober 2015

ISLAM IS RAHMATAN LIL ‘ALAMIN
Honorable Judges…
And honorable the audiences
Assalamu’alaikum..Wr..Wb
Mukadimmah
Ladies and Gentlemen
Let’s us say thank to God Almighty, Lord of the World, King of the King, and the Power over, who has given us His mercies and blessings. Because of Him we can gather here with a good condition, without any trouble..Alhamdulillah..
Sholawat and prayer we will say to our greatest prophet Muhammad SAW, His family, His friends, and His followers that bring us from the darkness to the brightness period. And He is the only Rasul who delighted by Him to deliver a true religion where bring a peace to the world, it is Islam as Rahmatan lil ‘alamin..
Ladies and gentlemen
Before I give speech more, let me introduce myself, my name is Farida Rahmawati. Let me speak thanks to the judges who made me stand up here. I thank to all my teachers who help me to be a smart student and a pious student. My thank also to all of you here who pay attention here.
Ladies and gentlemen
            In this occasion, I would like to deliver a speech and the title is “islam is rahmatan lil ‘alamin”
At the begin of my speech, I said that Islam is  a true religion where bring a peace to the world as Rahmatan lil ‘alalmin. Islam is also a true religion where bought by our greatest prophet, Muhammad SAW. This is true.
And before I give speech more, it will be better if we know what the meaning of islam, what the meaning of rahmatan, and also the meaning of ‘alamin…
First, the meaning of islam is from the word of Arabic language “salima”, it means peace and save.
The meaning of rahmatan is from the word of Arabic language too “rahima”, it means love.
And the last, the meaning of ‘alamin is also from the word of Arabic language “ ‘alima”, it means universe.
So, islam is rahmatan lil ‘alaamin has the meaning is Islam that is attendance of middle society able to create peace and love for the moslems in the universe.
I remember what our God said,
Wa maa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin
It means, “and we don’t delighted you but to be God mercy to the universe”
From this ayat we can conclude that Islam is a religion where bring the mercies and  blessings from Allah to the moslems in around the world.
Our prophet had done explained about islam, that islam is built by five thing, there are: believe to God Almighty and His prophet, pray or do the five times of sholat, paid the zakat, fasting in Ramadhan month, and the last is Haji.
But, do you know the condition of the world before islam come to the world?
The condition of the world before islam come was very bad and sadness. Where most people worship human, stone, statue, trees, sun, moon, that all is created by Allah SWT. The cruel occurred everywhere. Who had power would be win and frightened, and the weak others would be oppressed. Even, they (I mean, the man who lived before islam come), they think give birth the girl is the shame for them. So, they killed their daughter. And many cruelty others.
Ladies and gentlemen
Then Islam come and after Islam came, the condition of the world change. Although  with a storm and stress by our prophet, Muhammad SAW. It is better….
Islam teaches them to remember and pray only to Allah SWT, not the stone, statue, trees or whatever, that all is created by Allah SWT.
Islam teaches them to believe that Muhammad is the true person who had chosen by Allah SWT as the greatest prophet ever.
Islam teaches them to know and to love each other, not to hate or in fact to kill the others, even their daughter.
And the important too, Islam teach them not to be afraid with a man who has power or a rich man. Because the strongest is Allah SWT.
So, we all know, after islam came, the most nobles person at Allah side is the person who pious to Allah SWT. They aren’t, who has power and riches.
Innallloha laa yandhuru ila ajsamikum wa laa ila showarikum, walakin yandhuru ila qulubikum wa akmalikum
Ladies and gentlemen
I think that’s all from me, from what I said, we can conclude that we are as students, we have to be a pious and smart students to thank to God that we live with Islam  as Rahmatan lil ‘alamin. And also  we have to remember that, without islam the universe can’t be glow like this time, of course by Muhammad and His followers.
OK, Thank you very much for your attention, if I have some mistakes to all of you, I hope all of you to forgive me.
Good Bye,
Wassalamu’alaikum, Wr.. Wb.. Allahu Akbar!



Rabu, 20 November 2013

Mukadimmah





UNTAIAN KASIH-MU
Termasuk sunnah adalah orang mengendarai kendaraan memberikan salam kepada orang yang berjalan kaki, dan orang yang berjalan kaki memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit kepada yang banyak, dan orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Demikianlah disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah yang muttafaq'alaih.
 
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)


., “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS an-Nuur [24]: 26)